PESAWARAN – RN, Kotoran kambing yang berpotensi menjadi limbah dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik melalui teknologi pencacahan dan fermentasi. Inovasi tersebut diperkenalkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Lampung kepada masyarakat Desa Sungai Langka, Pesawaran, pada Selasa (4/8/2026).
Kegiatan yang menjadi salah satu program kerja unggulan KKN Unila tersebut berlangsung di Posko KKN Desa Sungai Langka. Kegiatan dihadiri Kepala Desa Sungai Langka serta melibatkan Kelompok Wanita Tani (KWT) dan pelaku pertanian desa.
Program bertajuk “Inovasi Pemanfaatan Kotoran Kambing sebagai Bahan Pupuk Organik melalui Teknologi Tepat Guna Mesin Pencacah dan Fermentasi untuk Mendukung Ketahanan Pertanian Desa Sungai Langka” menyasar petani skala kecil dan menengah serta KWT Desa Sungai Langka.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa memperkenalkan penggunaan mesin pencacah kotoran kambing untuk membantu proses pengolahan bahan organik. Kotoran kambing yang telah dicacah selanjutnya dapat dimanfaatkan dalam proses pembuatan pupuk organik melalui tahapan fermentasi.
Selain pengenalan teknologi pencacahan, masyarakat juga mendapatkan praktik pembuatan pupuk organik cair (POC) berbahan dasar kotoran kambing. Bahan yang digunakan meliputi kotoran kambing, EM4, molase, dan air bersih.
Proses pembuatan diawali dengan memasukkan sekitar 0,5 kilogram kotoran kambing ke dalam wadah. Selanjutnya, ditambahkan EM4 dan molase, kemudian air bersih hingga hampir penuh. Wadah tidak diisi hingga penuh untuk memberikan ruang bagi gas yang terbentuk selama proses fermentasi.
Setelah ditutup, wadah ditempatkan di tempat yang sejuk. Tutup wadah dibuka secara berkala untuk mengeluarkan gas yang terbentuk selama proses fermentasi. Proses tersebut dilakukan selama tujuh hari.
Kepala Desa Sungai Langka menyambut baik kegiatan tersebut karena memberikan pengetahuan dan praktik baru kepada masyarakat mengenai pemanfaatan limbah peternakan untuk kebutuhan pertanian.
“Kegiatan ini sangat baik karena memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang bagaimana kotoran kambing yang selama ini dianggap sebagai limbah bisa dimanfaatkan menjadi pupuk organik. Kami berharap pengetahuan dan teknologi yang diperkenalkan mahasiswa KKN ini dapat terus dimanfaatkan masyarakat untuk mendukung kegiatan pertanian di Desa Sungai Langka,” ujar Kepala Desa Sungai Langka.
Hal senada disampaikan salah satu anggota Kelompok Wanita Tani Desa Sungai Langka. Menurutnya, praktik secara langsung membantu masyarakat memahami tahapan pengolahan kotoran kambing menjadi pupuk organik.
“Biasanya kotoran kambing hanya dikumpulkan begitu saja, tetapi dari kegiatan ini kami jadi tahu bahwa kotoran tersebut bisa diolah menjadi pupuk. Praktiknya juga membuat kami lebih mudah memahami prosesnya, sehingga ke depannya bisa mencoba membuatnya sendiri,” ujar salah satu anggota Kelompok Wanita Tani Desa Sungai Langka.
Pemanfaatan kotoran kambing sebagai bahan pupuk organik diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif pengelolaan limbah peternakan sekaligus mendukung kebutuhan pertanian masyarakat. Pengenalan teknologi pencacahan dan fermentasi juga memberikan pilihan metode pengolahan yang dapat diterapkan dengan memanfaatkan potensi yang tersedia di lingkungan desa.
Selain program pengolahan kotoran kambing, mahasiswa KKN Unila di Desa Sungai Langka juga menjalankan program kerja lain di bidang pemberdayaan masyarakat dan pendidikan. Program “Sungai Langka Go Digital” berfokus pada pendampingan UMKM dalam pemanfaatan media sosial untuk branding dan promosi produk lokal, sedangkan “Angka Ceria” merupakan kegiatan pembelajaran matematika melalui metode belajar sambil bermain bagi siswa kelas 4 SDN 27 Gedong Tataan.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, mahasiswa KKN Unila berupaya mengambil peran dalam pemanfaatan potensi lokal, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan kegiatan pendidikan selama pelaksanaan KKN di wilayah tersebut. (Redaksi)



